Posted by: Qie on: March 26, 2009
Category: |
Movies |
| Genre: | Action & Adventure |
Mingu kemaren seseorangku datang ke Jogja. Awalnya sih gak terlalu beharap bisa ketemu. Pasalnya, dia termasuk orang yang ogah-ogahan buat ketemu aku, padahal akunya ndiri kangen berat. Pertemuan terakhir kami sudah dua bulan yang lalu. Gak lama memang, tapi yang namanya kangen tetep aja kangen kan.
Akhirnya, setelah bertemu, kami sepakat untuk nonton film bareng. Ini pertama kalinya dia traktir aku, dan pertama kalinya pula nonton berdua. Hehehehehehehe senengnyaaaaaaaaaaa.
Film sudah diputar selama sepuluh menit ketika kami datang. Tapi karena film ini terlihat paling lumayan diantara film-film lainnya, kami memutuskan tetap menontonnya. Dari pintu depan sudah terdengar bunyi scoring yang menghentak telinga dan membawa nuansa tegang. Tampak di layar wajah Keanu Reeves yang kumal, unstable, dan sedang menyetir mobil. Kali ini ia berperan sebagai Tom Ludlow, Detektif LAPD unit khusus yang seringkali menyelesaikan kasus khusus dengan cara khusus pula. Unit khusus ini diketuai oleh Jack Wander (Forest Whitaker) yang khusus bertugas menyelesaikan masalah yang timbul terkait cara penyelesaian khusus yang sering dijalankan unit khusus miliknya. Serba khusus memang, karena cara mereka beroperasi sama seperti penjahat yang mereka buru. Bunuh, rampas, bereskan. Begitupun ketika Ludlow ditugaskan memecahkan kasus human traficking yang melibatkan mafia Korea. Ia merencanakan masuk sarang mafia itu dengan berpura-pura membiarkan mobilnya dirampas. Lalu dengan aksi solo, Ludlow menyerang si Mafia Korea di sarangnya dan membebaskan dua tawanan mereka. Semua tersangka dibunuh, dan sandera berhasil dibebaskan.
Bagi sebagian polisi di LAPD, cara kerja Unit khusus ini terlihat mengerikan dan terlalu sadis dan tidak dapa dibenarkan, sehingga tak heran jika banyak orang yang berusaha mengadukan anggota unit khusus ini ke bagia Provos. Termasuk salah satunya detektif Washington (Terry Crews).
Washington dulunya adalah teman Ludlow yang kompak luar dalam. Namun karena berselisih pendapat dengan Ludlow dan Wander, ia dikeluarkan dari tim. Washington memang telah lama menyelidiki dan melaporkan unit khusus Wander kepada James Biggs (Hugh Laurie) yang mengetuai bagian Internal Affairs atau provos. Mengetahui hal itu, Ludlow marah dan naik pitam. Ia kemudian mengawasi Washington dan membuntutinya, termasuk ketika di suatu pagi ia melihat Washington masuk ke sebuah mini market. Ludlow berniat memukuli Washington saat itu juga. Niatnya urung dilakukan setelah melihat kedatangan dua orang perampok yang hendak merampok mini market yang dikunjungi Washington. Melihat ada kejahatan yang akan berlangsung, Ludlow mencoba memperingatkan Washington bahwa ada perampok yang hendak masuk ke mini market. Alih-alih percaya, Washington malah menyerang Ludlow dan menganggapnya berbohong. Mereka bergelut, dan perampok terlanjur masuk. Penjaga mini market diberondong tembakan hingga tewas seketika. Ludlow yang tengah bergelut dengan Washington segera melepaskan diri dan mencari tempat sembunyi untuk menghindar dari rentetan tembakan perampok tadi. Washington yang tergagap tak sempat menyelamatkan diri. Akhirnya ia tewas dengan banyak luka tembak di sekujur tubuhnya. Ludlow yang membawa senapan tak tinggal diam, Ia mencoba menembaki perampok yang menyerang Washington, tapi satu peluru malah mengenai mantan rekannya tadi.
Akibat insiden itu, citra buruk Ludlow sebagai polisi brangasan bertambah semakin buruk. Karena rekaman kamera mini market yang merekam kejadian tadi seolah olah mengatakan bahwa Ludlow terlibat perkelahian dengan mantan rekan yang melaporkannya ke provos kemudian Ludlow dendam dan menyuruh perampok menghabisi mantan rekannya tersebut. Melihat efek buruk jika rekaman itu tersebarluaskan, Wander sang kapten Unit khusus melakuakan tugasnya. Ia kemudian menyuruh Ludlow menyimpan bukti rekaman kamera, dan membuat berita yang mengindikasikan Ludlow sebagai pahlawan yang terlambat menyelamatkan rekannya.
Dari situ cerita bergerak pada usaha Ludlow menyelidiki kematian Washington dan membunuh perampok yang memebunuh mantan rekannnya tadi. Ia ditemani seorang detektif muda bernama Paul Diskant (Chris Evans) yang sering ia panggil disco. Petualangan dua detektif beda pengalaman ini mengantarkan mereka pada masalah yang lebih rumit lagi. Mereka berhadapan dengan mafia yang ternyata di beking-i oleh orang dalam LAPD. Dalam petualangan penuh ketegangan ini, Paul Diskant tewas dan Ludlow berada dalam posisi sulit. Akankah ia berhasil keluar dari posis sulitnya? Lalu siapakah dalang di balik kemelut itu?
Tonton aja sendiri ya….
Posted by: Qie on: March 25, 2009
Tahun lalu, saya memang tertarik untuk mengikuti arus blogger, turut menulis di ruang maya bernama blog. Jelajah pertama saya mendarat di wordpress. Cukup susah payah. Pasalnya, ini pengalaman pertama membuat blog dan saya tak memiliki kemampuan bahasa inggris yang bagus. Sedikit-demi sedikit saya bangun blog pribadi ini. Saya isi dengan tulisan dan puisi-puisi yang selama ini hanya ngendon di PC. Tak lama kemudian, tertarik dengan theme yang lebih pribadi, saya mencoba mengubah-ubah tampilan blog. Gak berhasil. Jengkel-lah hati. Ditambah kesulitan dalam memasang foto tiap memposting tulisan, saya kemudian memilih hengkang dari wordpress, cari kampung baru. Tapi tentu saja account di wordpress ini tidak saya matikan. Sekarang sih saya lebih aktif di multiply. Pengkhianat ya…. hahahahahahahaha… Dan berhubung id dan pasword saya selalu sama dimana-mana, jadinya mudah saja untuk menghidupkan kembali Blog di kampung yang ini.
Hummmmmm *mikir* Enaknya nulis apa ya?
Posted by: Qie on: August 9, 2008
check this out
Posted by: Qie on: July 8, 2008
Berharap Tuhan membalikkan semua perhitungan manusiaku
dan berharap kau menyadari keberadaanku
Aku disini
Aku disini
Posted by: Qie on: July 7, 2008
07.20 – Jam kedatangan rata-rataku di perpustakaan tempat aku kerja. Kadang by bus, kadang by bike. Kampus masih sepi, yang kelihatan berkeliling cuma beberapa petugas cleaning service yang tampaknya sudah memulai pekerjaannya semenjak matahari menampakkan muka.
07.30 – Mengisi absensi kedatangan. “Jleg..creeeek!!!” dan tercetaklah jam kedatanganku di perpus. Biasanya belum ada kompatriot sesama parttimer yang datang. Seringkali cuma ada mas cleaner sama mbak/mas pegawai tetap.
07.30 – Merekap data pegunjung perpus, data buku yang dipinjam dan data peminjam buku. Memakan waktu kira-kira 15 menitan.
07.45 – Siap melayani pengunjung. Kadang di bagian pengembalian, kadang di bagian peminjaman. Kalau di bagian peminjaman, aku duduk tepat di depan kamera cctv (monitornya ada di ruangan om didi (Pak Didi Riyadi))dan dapat melihat pengunjung yang inden dengan jelas. Mengoperasikan program sipus (program untuk sirkulasi buku) dan mulai menjalani ritual peminjaman kalo ada pengunjung yang minjem. Ritual itu dimulai dari menanyakan ke yang minjem buku, “Kartu perpusnya mana mas atau mbak?” ga lupa sambil pasang senyum (kecuali pas bad day, padahal bad day-nya hampir tiap hari, hehehehehe
). Selanjutnya nggendong buku itu layaknya bayi dan mulai memolesnya dengan tanggal pengembalian, ngecek barcode buku, dan terakhir menggosok punggungnya dengan penetral sensormatic bukan dengan minyak telon ya….. Baru deh dikasih minjem sama yang minjem sambil pasang tampang manis dan bilang, “Mbak/mas, bukunya balikin hari……(nama hari tertentu, mis hari raya hehehe
ga ding!….) tanggal…… (pokonya jangan angka 32 ke atas lah…:D)” Pekerjaan ga berhenti sampe disini, aku masih harus mencatat si peminjam dan buku yang dia pinjam manually…. Ni yang suka bikin ngantuk 
.
Kalo di pengembalian,..ga terlalu ada ritual serumit peminjaman sih,meskipun sama-sama ngoperasiin program sipus. Ibaratnya program sipus itu nasinya dan ngecap tanggal dkk itu lauknya. Di pengembalian cukup nyari kartu buku, diliat di sipus, naruh bukunya di tempat transit buku (kalo bukunya dibalikin) ato ngecap tanggal (kalo bukunya di perpanjang masa peminjamannya). Udah segitu doang…
8.00 – hari di bulan-bulan semester pendek terasa sunyi. Biasane blum da satu pun pengunjung. Berenang di kolam internet. Baca e-mail, liat friendster (bener2 cuma bisa ngliat doang, krn situsnya di blockade), buka MP
, buka situs2 gosip yang Siiiip..Ini kegiatan favoritku he he he he he
09.00 – Perpus masih sepi, akupun makin mantap menatap monitor komputer.
10.00 – Biasanya peminjam pertama datang
12.00 – Ngantuk…..(bosen internetan)
13.00 – Take a rest, take a big breath………………
14.00 – Balik kandang,… tambah ngantuk krn kekenyangan
16.00 – kebosanan memuncak, (pergantian shift getooh, jadi aku terusir dari tumpah darah komputer perpus, diganti sama penjajah shift berikutnya)
16.30 – Pulang,…….. leganyah……………………….
Kerja di perpus tuh enaknya bisa ketemu orang-orang yang berbeda tiap hari (Berbeda disini dalam arti mood-nya, karena klo diliat-liat, yg datang ke perpus ya cuma orang-orang itu aja..).
Dapet snack..meski kadang snacknya aneh2 (masa kelapa parut campur gula?????).
Ngenet gratizz meski harus rebutan komputer.
Malesnya kalo ngadepin mahasiswa yang komplain bin ngeyel bin jutek, bin sok-sok an. Hadohhhh males bangethh…. susah dibilangin………….tapi dari mungkin dari mereka aku harus belajar sabar. Kadang juga, kalo lagi males ngenet, ato internetnya lagi down…….. aku jadi bosen biyangethhh. Ngantuk aja bawaannya… kadang sih mbunuh ngantuknya pake acara ngobrol ngalor ngidul sama temen sesama parttimer. Ntah obreolan ringan (baca:gosip) atau obrolan berat (baca:teori kuliah).
Begitulah rutinitas kerjaku………………..
Photo : aku pas di bagian peminjaman…………………. tampak samping yang cakep
copy paste dr www.juicemelon.multiply.com
Recent Comments